Arsip Tag: Wujud

Mengenal, Awal Cinta (Bag-3)

Sebagaimana dijanjikan dalam tulisan sebelumnya, pada kesempatan kali ini, akan diurai beberapa tema dasar dalam filsafat. Namun, harus diingat baik-baik bahwa kata “ada”—yang banyak digunakan pada dua bagian tulisan sebelumnya— bukanlah kata yang tepat untuk menerjemahkan kata “wujud” dalam bahasa filsafat.[i] Adalah kenyataan bahwa kata “wujud” itu sendiri mensyaratkan kesadaran dan persepsi. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat mendiskusikannya. Mudah-mudahan lain kesempatan, persoalan ini akan diurai dengan baik.

Seperti telaah-telaah sebelumnya, kita telah bahas bahwa obyek kajian filsafat adalah yang “ada”. “Ada” di sini merupakan segala sesuatu yang bisa kita rujuk. Lawan dari yang “ada” adalah ke-tiada-an. Ke-tiada-an adalah sesuatu yang tidak mungkin kita bisa berelasi dengannya. “Ada” sebagaimana ada merupakan sesuatu yang bersifat badihi, menjadi basis dari segala yang dijumpai. Ia di dalam dirinya sederhana, tidak memiliki pembagian apapun, melingkupi segala sesuatu tapi bukanlah menjadi segala sesuatu.

Selanjutnya, kita akan mencoba mengaji wujud dari segi makna “mungkin. “Mungkin, sering dikontraskan pula dengan “ada”. Makna “mungkin” di sini, merupakan variabel yang berbeda dengan makna “ada” dan “tiada”. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia banyak menjumpai dan mengalami sesuatu yang dianggap sebelumnya tiada. Namun, kemudian hari menyatakan ia ada. Misalnya, diasumsikan bahwa wacana filsafat adalah tema yang belum pernah terngiang di telinga ataupun hadir dalam benak. Dalam posisi ini, filsafat adalah sesuatu yang tiada dalam pengetahuan kita. Barulah pada saat di bangku kuliah, kata dan makna filsafat mulai dikenal.

Dalam konteks di atas, ‘sebelum’—kuliah—adalah kondisi di mana kita tidak mengenal kata dan makna filsafat. Dan, ‘setelah’—kuliah—adalah kondisi di mana kita mampu memahami kata dan makna filsafat. Jadi, makna “mungkin” di sini bukanlah sesuatu yang dalam dirinya dikatakan sebagai yang “ada” – diketahui, tidak pula dikatakan sebagai yang tiada – tak diketahui. Dalam berbagai kesempatan, saya sering menyebut bahwa makna “mungkin” berada dalam ketegangan antara “ada” dan “tiada”.

Dalam istilah filsafat, pembahasan di atas disebut sebagai tiga materi.[ii] Salah satunya telah kita jelaskan di bagian kedua dalam lanjutan tulisan ini. Hanya untuk mengonfirmasikan bahwa”ada” adalah sesuatu yang dalam dirinya bersifat wajib. Dalam terminologi filsafat disebut “wujud wajib”, yang dikontraskan dengan ke-tiada-an, yang mustahil berwujud. Misalnya, angka lima dalam hubungannya dengan ganjil, merupakan sesuatu yang bersifat niscaya dan mustahil lima adalah angka genap.

Selain itu, terdapat wujud yang disebut sebagai “wujud mungkin”. Di mana wujudnya, bukan hal yang niscaya meng-ada, bukan pula mustahil tiada. Misalnya, air pada dirinya memiliki ke-mungkin-an untuk mendidih, juga memiliki kemungkinan membeku. Kemungkinan atau potensi mendidih dan membeku ini, bukanlah sesuatu yang mustahil baginya, tidak pula niscaya baginya. Namun, apakah air akan mendidih ataupun membeku, sangat ditentukan oleh syarat dan kondisi eksternalnya. Jika tiada syarat dan sebab-sebab mendidihnya, maka mustahil baginya mendidih. Begitu pula, jika syarat dan sebab-sebab mendidihnya terpenuhi, maka niscaya baginya mendidih.

Keniscayaan air dalam ke-mendidihan-nya tidaklah bersifat mandiri. Air untuk menjadi niscaya—mendidih—membutuhkan sebab dan syarat-sarat tertentu. Dengan demikian, terdapat dua bentuk wujud wajib, yaitu wajib karena dirinya sendiri, dan wajib karena yang lain. Wajib karena yang lain inilah yang kita sebut sebagai “wujud mungkin”.

***

Wujud, jika dipandang dari sisi realitasnya, maka terdapat dua bentuk pemahaman terhadapnya, yaitu “wujud wajib” dan “wujud mungkin”. Pada realitas eksternal pula, kita menemukan adanya sistem pasti. Sistem pasti yang di maksud di sini ialah prinsip sebab-akibat. Ketika menyatakan sesuatu itu akibat, maka pasti ia memiliki sebab. Dan hubungan antara sebab terhadap akibat, merupakan hubungan bersifat niscaya .Ke-niscaya-an yang dimaksud ialah ketika sesuatu untuk dapat menjadi sesuatu yang lain, ia membutuhkan syarat dan sebab-sebab tertentu. Ketika syarat dan sebabnya terpenuhi, maka niscaya baginya untuk menjadi. Dengan demikian, sesuatu yang eksis di alam ini, terdapat ke-pasti-an dan ke-niscaya-an, sebaliknya sesuatu yang tidak eksis mustahil baginya terjadi di alam.

Hukum kausalitas ini, hanya dapat diterapkan pada wujud yang bersifat “mungkin”. Sedangkan pada “wujud wajib” dan “wujud mustahil”, mustahil dirinya memiliki hukum sebab-akibat.[iii]Wujud wajib” selamanya akan selalu ada, dan wujud “tiada” selamanya akan dalam ke-tiada-an. Akan tetapi “wujud mungkin” tidak niscaya baginya ke-tiada-an dan tidak niscaya baginya keber-ada-an. Andai diasumsikan ketetapan baginya, maka kita hanya bisa menyatakan bahwa keniscayaannya adalah ketidakniscayaan dalam “ada” dan “tiada”-nya.

Simpulan sementara, dalam menelaah wacana-wacana filsafat, kita akan menemui apa yang saya istilahkan sebagai triologi wujud[iv]. Triologi wujud ini, bukanlah sekadar asumsi akal semata, lebih dari itu, ia adalah cara dan instrumen dalam memahami realitas. Misalnya, dalam suatu proposisi; angka lima adalah angka yang ganjil. Hubungan antara lima sebagai yang ganjil adalah bersifat niscaya. Sedangkan, menyatakan lima sebagai angka ganjil sekaligus yang genap, adalah hal yang jelas mustahil. Di sisi lain, hubungan antara air dengan mendidih, relasinya adalah keserba-mungkin-an, yang tidak niscaya baginya mendidih dan tidak mustahil baginya untuk mendidih. Mendidih ataupun tidak, tergantung faktor, syarat, dan sebab-sebabnya. Di sinilah relevansi pembahasan konsep kausalitas, yang di lain kesempatan akan kita diskusikan.

Tunggu tulisan selanjutnya ya…

[i] Mempunyai akar kata yang sama dengan ‘wajada’, ‘wawajida’, ‘wajidatan’, yang arti harfiahnya; mendapat atau memperoleh.

[ii] Lihat, Murtadha Muthahhari, Pengantar Filsafat Islam.

[iii] Jika diasumsikan terdapat kausalitas dalam “tiada”, maka sama halnya, menyatakan ia “ada”. Begitu pula dengan “ada”, jika diasumsikan terdapat di dalamnya kausalitas, maka sama halnya menyatakan bahwa “ada” tercipta dari selain “ada”, yaitu ke-tiada-an. Dan ke-tiada-an mustahil dapat menjadi sebab keber-ada-an.

[iv] Dalam istilah Muthahhari disebut sebagai ‘tiga materi’.

Mengenal, Awal Cinta (Bag-2)

Sebagaimana janji pada tulisan sebelumnya, untuk dapat melanjutkan tulisan bagian kedua ini, besar harapan saya untuk dapat menyampaikannya dalam bahasa sederhana, berusaha agar tidak terkesan abstrak dan rumit, seperti penulisan filsafat pada umumnya. Dengan bermodalkan referensi yang terbatas, serta memetik pelajaran dari hasil pengalaman-pengalaman mengajar ataupun diajar. Dari semua itu, bagian kedua tulisan ini, banyak mengambil inspirasi dari tiga pola di atas.

Sebelumnya telah disampaikan bahwa kesulitan dalam memahami kajian filosofi, disebabkan oleh pola yang terbiasa dengan berpikir parsial, batasan dan empirik. Di sini, perlu saya sampaikan, bahwa berpikir parsial ataupun empirik tidak berati bermakna salah, itu sah-sah saja. Bahkan dalam konteks tertentu, cara berpikir parsial sangatlah dibutuhkan. Sebagai contoh, dalam menetapkan suatu hukum, dalam konteks ini, hal-hal yang bersifat parsial atau partikular menjadi pokok yang mesti diperhatikan.

Pada bagian tulisan pertama, telah dijelaskan, bahwa obyek atau tema utama dalam telaah filsafat adalah membahas tentang keber-ada-an. “Ada” dalam pengertian ini, bermakna sama dengan wujud, atau eksistensi. Sebagaimana mafhum, ada” atau wujud adalah gagasan di mana tiap manusia menyadari akan maknanya. Dalam pandangan Muthahhari, manusia adalah makhluk yang sadar, yakni sadar akan dirinya dan sadar akan alam yang ada di sekitarnya.[i] Dengan kata lain, makna “ada” itu adalah sesuatu yang sangat jelas, sejelas kesadaran manusia akan eksistensinya sendiri.

Dalam sejarah pemikiran, kita disuguhi suatu fakta bahwa terdapat sekelompok orang yang dalam pandangan mereka, menyatakan bahwa “ada” atau wujud, pada dasarnya adalah ketiadaan. Kelompok ini lahir di masa kehidupan Socrates. Mereka dikenal sebagai kelompok Sophis.[ii] Mereka menolak semua apapun yang manusia yakini ada. Pada awalnya gerombolan ini adalah para cendekiawan, para hakim dalam pengadilan. Mereka dengan kemampuan retorikanya menjadi penasehat ataupun pengacara. Salah satu di antara mereka, yang terkenal bernama Gorgias sebagai tokohnya kaum Sophis. Gorgias dalam ungkapan terkenalnya, menyatakan bahwa tiada yang disebut ada. Andai dia ada, dia tidak akan diketahui. Andai diketahui, ia tidak dapat dikomunikasikan.[iii]

Dalam ungkapan di atas, jelas bahwa mereka menolak gagasan tentang “ada”. Dari pemikiran ini, berefek pada penolakannya akan kebenaran dan realitas yang mutlak. Mereka meyakini serta mengajarkan bahwa apa yang kita anggap ada dan benar, pada dasarnya hanyalah permainan kata-kata semata. Ia tidak memiliki realitas sesungguhnya, kebenaran itu sejauh mana engkau mampu mempertahankan argumentasimu. Hari ini yang manusia anggap benar, besok dapat saja berubah. Begitu pula sebaliknya, apa yang kita anggap hari ini salah, besok bisa saja ia benar. Benar dan salahnya, jika engkau mampu mempertahankannya. Jadi, mereka ingin menyatakan kebenaran itu tidak memiliki realitas atau keberadaan. Sehingga menyatakan “ada” memiliki realitas, tiada lain hanyalah khayalan dan permainan kata-kata semata.Tentu secara teoritis, pendapat ini sangat tidak memiliki dasar yang kuat. Walaupun mungkin secara praktis, gaya berpikir Sophis ini dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi dunia politik saat ini, mereka tidak peduli benar dan salahnya suatu cara, pandangan dan tujuan. Tujuan mereka hanyalah mencapai kemenangan. Benar dan salah telah berganti wujud jadi menang dan kalah, tak peduli dengan cara apapun.

Kembali pada persoalan wujud. Anggaplah kita asumsikan bahwa mereka menolak akan realitas “ada”. Namun, saat yang sama, tentu tidak dapat mengelak dari eksistensinya sebagai yang menolak. Dengan kata lain, penolakan terhadap “ada” adalah bukti bahwa sesuatu itu ada, dikarenakan untuk menolak sesuatu, mesti penolak dan yang ditolak harus ada terlebih dahulu, untuk kemudian menolak dan ditolak. Bagaimana mungkin menolak sesuatu yang pada dasarnya adalah ke-tiada-an? Penolakan hanya dapat terjadi, jika ada subyek yang menolak dan obyek yang ditolak. Dengan demikian, mereka telah mengafirmasi keber-ada-an dalam penegasianya terhadap “ada”. Dalam pandangan Ibn Sina, orang seperti ini hanya bisa dihadapi dengan tindakan praktis. Memukulnya dengan batu, jika mereka merasakan kesakitan ataupun marah, maka jelaslah semua yang dia ingkari.

Dalam pandangan Musa Kazhim, “ada” atau wujud adalah segala sesuatu yang kita temukan. Dia adalah gagasan yang tidak mungkin dapat didefinisikan, lantaran semua definisi apapun berpijak darinya. [iv] Dia menjadi dasar ataupun pendorong semua hal dan pusat segala yang tampak bagi kita. Makna “ada” di sini menunjuk segala sesuatu yang dapat kita sentuh, rasakan, pikirkan, khayalkan, imajinasikan, dan segala apa yang darinya manusia dapat berhubungan dalam bentuk apapun.

Negasi dari makna “ada” adalah “tiada”, yang tidak bisa kita sentuh, rasakan, pikirkan, khayalkan, imajinasikan, dibicarakan dan seterusnya. Dengan demikian, makna wujud menjadi hal paling melingkupi dan sederhana. Pengertian dari sederhana di sini adalah kesederhanaan mutlak yang sama sekali tidak terdapat rangkapan atau susunan di dalamnya.[v] Misalnya air, yang wujudnya terlahir dari dua unsur materi,[vi] oksigen dan karbon. Oksigen dan karbon ini adalah pembagi yang terdapat pada air, di mana tanpa dua unsur ini, air tidak akan pernah dapat mewujud. Di sini, dapat ditarik kesimpulan, bahwa air adalah wujud yang di dalam dirinya terbagi, sehingga dikatakan ia tidak sederhana. Jadi, sederhana di sini tidak dalam pengertian hidup dalam kesederhanaan, ataupun berpenampilan sederhana. Kata sederhana dalam bahasa filsafat, ketika sesuatu itu tidak dapat dibagi lagi atau diurai wujudnya. Kesederhanaannya melingkupi segala yang ada, akan tetapi bukan menjadi segala sesuatu.[vii]

Simpulan sementara, “ada” atau wujud itu bersifat badihi atau jelas, tidak butuh yang lain untuk memperjelas dirinya. Lawan dari “ada” adalah ke-tiada-an, yang mana hal ini pun bersifat jelas dan badihi. Dikarenakan wujud adalah pijakan dan kemencakupan segala yang ada,maka ia sempurna dalam keberadaannya. Ia menjadi titik dari yang dapat kita pikirkan, imajinasikan, dan indrai. Sederhana dalam eksistensinya, dia tidak tersusun dari materi dan bentuk, tidak memiliki genus ataupun pembeda. Sebaliknya,wujud adalah segala sesuatu, namun wujud bukan sesuatu yang diidentifikasi secara individu.

Tunggu bagian selanjutnya…

[i] Murthada Muthahhari, Bedah Tuntas Fitrah,1410 H,hlm 44

[ii] sophist, bermakna orang yang bijak dan berilmu.

[iii] Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Daras Filsafat Islam, 1,oktober 2016, hlm 105

[iv] Musa Kazhim, Tafsir Sufi, Juli 2003, hlm 23

[v] Muhammad Nur, Wahdah Al-Wujud Ibn’ Arabi & Filsafat Wujud Mulla Shadra, Mei 2012, hlm 84

[vi] Setiap materi terdiri dari “ materi dan bentuk”. Air yang terdiri dari Oksigen dan Hidrogen, hanyalah suatu penjelasan dengan contoh

[vii]Muhammad Nur, Wahdah Al-Wujud Ibn’ Arabi & Filsafat Wujud Mulla Shadra, mei 2012, hlm 84