Profesional

 

 

Belum cukup sebulan aku dimutasi oleh kantorku mangais nafkah dari kantor di Bolaang Mongondow ke salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo. Kabutpaen yang masih beririsan dengan garis bentang katulistiwa di Sulawesi Tengah yang sangat khas udaranya menyengat sehingga beberapa kawan sejawat menyebutnya negeri api, daerah yang memiliki matahari dua saking panas dan gerahnya. Hampir-hampir aku tak tahan gerahnya dalam proses adaptasi yang telah berlangsung hampir sebulan. Apatah lagi aku memulai puasa di bulan Ramadan tahun ini. Lambat laun ujian-ujian yang cukup berat bisa kulalui dengan sabar yang juga karena berkenaan dengan Ramadan yang salah satu pesannya adalah menghimbau kita untuk meningkatkan kesabaran.

Pekerjaaan dilakukan seperti biasanya berjalan normal tanpa hambatan yang cukup berarti. Hingga suatu hari pergantian pilot helikopter terjadi sebagaimana lazimnya bila schedule pergantian tiba maka pilot yang baru akan menggatikan pilot yang lama. Tapi, sebelum bekerja, pilot yang baru harus memenuhi syarat-syarat profesional sebagaimana perjanjian atawa MoU (Memorandum of Understanding) antara perusahaan user dengan vendor. Dalam proses itu ternyata pilot yang berkebangsaan Australia itu tidak memenuhi syarat untuk beberapa hal. Manajemen perusahaan tempat kami bekerja memulangkannya ke perusahaan tempat dia bekerja walaupun bule tersebut berusaha melobi hingga nyaris menyogok.

Kesan dan stigma tentang “kebobrokan” mental orang-orang di negeri ini rupanya ingin digeneralisasi bahwa semua orang dan bangsa ini mudah dibeli dan disogok, dan untuk kali ini mereka keliru, sebab, pekerja di level menejer yang masih  berusia muda memiliki komitmen dan attitude yang cukup bagus bagi perusahaan dan negerinya, tempat mereka bekerja dan membangun negerinya. Mereka pekerja profesional yang terdidik bagus sejak di kampusnya. Mereka mantan aktivis yang memiliki karakter yang tertempa bagus dalam pergulatan pamikiran dan aktivitasnya di kampus dan di masyarakat.

Pekerja profesional memang adalah para pekerja yang sangat spesifik, expert, dan ahli di bidangnya masing-masing. Dihargai dan dibayar cukup tinggi, jadi konsekwensinya mesti harus memiliki komitmen membangun perusahaan dan negeri di mana mereka bekerja dan beraktivitas mencari nafkah. Sesungguhnya apapun pekerjaan kita adalah termasuk bagian dari sebuah profesi yang merupakan tanggung jawab moral kita dalam melakoninya, walaupun di era modern ini ada kecenderungan orang-orang memisahkan para pekerja biasa atawa amatir dan para profesional yang sangat expert di bidangnya, dan oleh sebab itu mereka dihargai dengan bayaran yang tinggi.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga, Balai Pustaka 2001), profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian dalam arti keterampilan dan kejuruan tertentu, dalam artian memerlukan kepandaian khusus untuk menjalakannya sehingga mengharuskan adanya pembayaran yang lebih spesifik. Seseorang disebut profesional, apabila kita melihatnya mampu menjalankan tugas sebagaimana yang dituntut. Kemampuannya ini dimiliki karena ia belajar dan memiliki keterampilan teknis dibidang tersebut. Misalnya, dokter yang profesional bekerja sesuai dengan kaidah pekerjaannya.

A.Setyo Wibowo, dalam buku Filsafat Untuk Para Profesional, menguraikan  bahwa karena kata profesional tidak berasal dari bahasa Indonesia, adalah baik kalau kita melongok definisi yang diberikan oleh bahasa-bahasa lain. Misalnya, kamus Prancis (Le Nouveau Petir Robert, Paris 1996) selain menekankan dimensi teknis pekerjaan (keahlian) yang sudah disebut, juga memberi wawasan yang lebih luas mengenai makna kata “profession” (kata benda feninin), yang bermakna tidak hanya pekerjaan yang besifat positif tapi juga pekerjaan yang bersifat negatif, seperti profesi pembunuh, dan yang lainnya. Dan lebih lanjut, kata profession juga bermakna “pernyataan di depan umum berkenaan dengan kepercayaan, opini, atawa tingkah laku tertentu, dan hal ini berkaitan dengan tradisi panjang di kalangan religious kristiani. Dan kata profesi ternyata tidak selamanya terkait dengan urusan bayaran uang atawa keterampilan teknis apa pun, tapi berkenaan pernyataan di depan umum sebelum menerima sakramen penguatan, anak-anak usia SMP melakukan apa yang disebut profession de foi (bahasa latinnya : professio fidei) yang artinya pernyataan iman.

Dalam konteks perdefinisi di atas, bila kita mencoba menggabungkannya dalam sebuah pemahaman religious, bahwa kata profesional sebuah kata yang menunjukkan keterampilan seseorang yang sangat tinggi pada sebuah pekerjaan yang dikerjakannya, dan sekaligus persaksian iman bagi seseorang sebagai bekal dalam mengarungi hidupnya kedepan secara bertanggungjawab yang dipenuhi nilai-nilai spiritual.

Manarik benang merah dari perdefinisi di atas, maka kloplah sudah bila beberapa orang anak muda yang secara profesional sangat mumpuni di bidangnya dan sekaligus memiliki tanggung jawab moral dan spiritual. Menolak segala hal yang berbau korupsi, kolusi, sogok, dan sejenisnya, juga adalah tanggung jawab profesional yang mesti inhern di dalam jiwa dan laku bagi seseorang yang mengaku pekerja profesional, dalam membangun perusahaan dan negerinya tempat mereka mengais nafkah.

 

 

  • Pagi masih buta, saya sudah dijemput oleh mobil angkutan langganan, yang akan membawa balik ke Makassar, setelah berakhir pekan di Bantaeng. Entah yang keberapa kalinya saya melakukan perjalanan ini, yang pasti, saya lebih banyak menggunakan angkutan umum, setelah saya kurang kuat lagi naik motor. Waima begitu, semuanya berjalan lancar, dengan mengeluarkan uang sewa sebesar empat…

  • Manusia hakikatnya tidak dirancang untuk mengerti perpisahan. Manusia hanya mahluk yang mengambil resiko berpisah karena suatu pertemuan. Begitulah alam bekerja, juga di kelas menuli PI. Kemarin pertemuan 13. Tak ada yang jauh berbeda dari biasanya. Kawankawan membawa tulisan, setelah itu sesi kritik. Hanya saja sudah tiga minggu belakangan kuantitas kawankawan pelanpelan menyusut. Barangkali banyak soal…

  • Setiap  keluarga,  mestinya punya  ritus. Ritual yang bakal menjadi tali pengikat untuk merawat keawetan kasih sayang, solidaritas, kekompakan dan tenggang rasa. Dan, setiap keluarga boleh memilih dan menentukan jenis ritus-ritusnya. Waima ritus itu biasanya terkait langsung dengan aktivitas keagamaan, namun dalam sebuah keluarga yang telah mementingkan suasana spiritual, maka apapun geliatnya, selalu berkonotasi spiritualitas. Demikian…

  • Scribo Ergu Sum—Aku Menulis, Aku ada (Robert Scholes) Kelas menulis sudah sampai pekan 12.  Sampai di sini kawankawan sudah harus memulai berpikir ulang. Mau menyoal kembali hal yang dirasa juga perlu; keseriusan. Keseriusan, kaitannya dengan kelas menulis, saya kira bukan perkara mudah. Tiap minggu meluangkan waktu bersama orangorang yang nyaris sama kadang tidak gampang. Di sana akan banyak kemungkinan, bakal banyak yang bisa terjadi sebagaimana lapisan es di kutub utara mencair akibat global warming. Di situ ikatan perkawanan bisa jadi rentan musabab suatu soal sepele misalkan perhatian yang minim, perlakuan yang berlebihan, atau katakata yang menjemukan, bisa mengubah raut wajah jadi masam. Makanya di situ butuh asah, asih, dan tentu asuh. Agar semua merasai suatu pola ikatan yang harmonik. Sehingga orangorang akhirnya bisa membangun kesetiaan, tentu bagi keberlangsungan kelas literasi PI. Begitu juga diakhir pekan harus menyetor karya tulis dengan kemungkinan mendapatkan kritikan, merupakan juga aktifitas yang melelahkan. Menulis, bukan hal mudah di saat dunia lebih mengandalkan halhal instan. Menulis butuh kedalaman dan waktu yang panjang. Menulis membutuhkan daya pikiran dan pengalaman yang mumpuni agar suatu karya layak baca. Karena itu kawankawan harus punya persediaan energi yang banyak. Biar bagaimana pun tujuan masih panjang, bahkan tak ada terminal pemberhentiaan. Walaupun tujuan selama ini hanya mau menghadirkan penulispenulis handal. Akibatnya hanya ada satu cara biar punya stamina besar; rajin bangun subuh. Saya kurang yakin apakah memang ada hubungan antara keseriusan dengan bangun di waktu subuh? Tapi, sampai pekan 12, keseriusan itu mesti terwujud di dalam karya kawankawan. Keseriusan yang mau membina diri. Keseriusan memamah berbagai bacaan, mau melibatkan diri di berbagai forum diskusi, dan banyak berlatih menulis. Kalau tiga hal ini disiplin dilakukan, saya harap dari komunitas sederhana kita bisa tumbuh orangorang yang tulisannya bakal ditunggu kedatangannya. Belakangan cara kita membangun komitmen sebagai penulis pemula ditandai dengan menerbitkan blog pribadi. Hal ini satu kemajuan menyenangkan sekaligus menyakitkan. Blog itu semacam buku harian. Akan membahagiakan jika di situ kawankawan rajin mengisinya dengan berbagai tulisan. Melihatnya dibaca banyak orang pasca diterbitkan. Juga melihatnya dapat membuat orang senang membacanya. Menulis begitu menyakitkan karena prosesnya sama dengan kelahiran seorang anak. Di situ ada ide yang dikandung, tersedimentasi sekaligus. Akibatnya, tiap tulisan dirasa punya masa kandungan. Kapan dia lahir tergantung lamanya waktu di dalam kandungan. Tulisan sebagaimana takdir sang anak, tak bisa dipaksakan…

  • Salah seorang putri saya,  yang masih duduk di sekolah menengah pertama, mengenakan seragam porseninya, T-Shirt yang bertuliskan Exiurose. Semula saya menduga itu adalah suatu slang yang belum ramah di pengetahuan saya. Maklum saja, anak-anak muda sekarang cukup kreatif melahirkan istilah-istilah baru. Rupanya, Exiurose adalah kependekan dari Experience of Our Purphose, yang dimaknakan kurang lebih, pengalaman…


Kala Literasi

Jl. Pa’ Bentengang No.6, RT.01/RW.08, Mangasa Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221