Palestina vs. Israel: Nasionalisme dan Kolonialisme

(Suatu Tinjauan Sosiologi Kekerasan)

Kawasan Timur Tengah kembali memanas pasca kelompok Hamas Palestina menggencarkan serangan mendadak ke Israel tidak jauh di perbatasan Gaza, Sabtu (7/10/23) dini hari waktu setempat. Akhir pekan yang berubah mencekam, karena serangan ribuan nuklir itu tepat ditujukan ke Tel Aviv dan Yerusalem, menembus sistem pertahanan Iron Dome menghancurkan banyak bangunan. Frank Gardner, koresponden keamanan BBC, menyatakan serangan itu bisa lolos karena intelijen Israel “tertidur”.

Gempuran mendadak itu menambah catatan panjang “konflik” antara dua kawasan yang dimulai setengah abad lalu—penting untuk dicatat, termin konflik bukan istilah yang pas untuk menggambarkan keadaan sebenarnya di lapangan. Di kesempatan terpisah, perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut serangan itu tidak dapat dimaafkan dan menyebut kelompok Hamas merupakan organisasi teroris. Suatu pernyataan yang sebenarnya kontraproduktif mengingat sejarah panjang kolonialisme Israel atas warga Palestina. Dalam hal ini, kolonialisme Israel lebih berbahaya dari terorisme yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Kolonialisme Israel selama ini merupakan pendudukan, pembajakan, penindasan, dan pembunuhan yang dilakuakan terang-terangan, tapi sunyi dari suara kritik sebagia besar negara-negara dunia. Karena itu, merupakan standar ganda menyesatkan dari pernyataan perdana menteri Israel itu.

Yang terjadi di Palestina saat ini, merupakan seperti dikatakan Ilan Pappe, sejarawan Yahudi yang pro Palestina, adalah suatu pembersihan etnis. Merupakan tindakan pengecut jika menginginkan suatu tatanan dunia hanya dengan tujuan melestarikan etnis atau suku bangsa tertentu. Pappe menyebut Israel selama ini tengah mengembangkan propaganda keyakinan untuk membenarkan bahwa Israel-lah penduduk asli di Palestina, yang sebenarnya hanyalah mitos belaka.

Di beberapa media sosial beredar tentara-tentara Israel yang tertangkap dan menjadi tawanan militan Palestina. Galibnya tawanan sudah pasti merasakan ketakutan dan kekhawatiran persis seperti tawanan Israel yang beredar itu. Menjadi pertanyaan untuk konteks itu, seperti apakah dampak dari beragam peristiwa kekerasan perang bagi kedua belah pihak? Bagaimanakah perang jalanan bertahun-tahun membentuk psikologis mereka? Seperti apakah arti perang bagi kedua Israel terlebih lagi Palestina? Pertanyaan ini tidak baik untuk saya jawab di sini, tapi satu hal yang pasti, tentara Israel yang nampak merengek minta dibebaskan cukup menggambarkan bagaimana situasi psikis militer Israel saat ini. Kekerasan perang nampaknya menjadi instrumen negatif, setidaknya untuk dirinya. Berbeda dengan sebuah tayangan seorang istri pejuang Hamas yang haru dan bahagia atas kabar kematian suaminya akibat serangan drone Israel. Tentu makna kematian disambut kebahagiaan wanita ini adalah syahid, satu konsep yang tidak dipahami tentara sekuler masa kini.

Kekerasan seringkali menjadi momok, tapi kerap juga menjadi instrumen melahirkan kekerasan baru. Itu artinya, momok akan melahirkan momok baru, yang merupakan respons atas kekerasan sebelumnya. Persis seperti itulah dibilangkan Dom Camara, pemikir Amerika Latin, dengan konsep spiral kekerasannya, yang mengandaikan kekerasan akan saling berbalas kekerasan selama terjadi di tantanan personal, institusional, dan struktural. Tapi, di kawasan terkhusus Palestina, kekerasan tidak berbentuk spiral, melainkan seporadik dan menyebar sehingga lebih menyerupai ledakan-ledakan kecil yang dibalas dengan ledakan lainnya dengan eskalasi yang semakin meninggi. Dalam arti ini, kekerasan yang silih berganti bisa mempengaruhi tatanan budaya sehingga melahirkan tradisi kekerasan.

Patut disayangkan jika mengingat kesaksian banyak aktivis pendidikan di Palestina, yang mengatakan kolonialisme telah mengubah perangai anak-anak di Palestina. Anak-anak yang tumbuh di kawasan perang seperti Palestina akan tumbuh menjadi tidak normal karena kehilangan keriangan dan kegembiraan. Mereka akan berubah menjadi seseorang yang berjiwa keras, dan akan sulit menerima apalagi mempercayai orang asing. Masa anak-anak akibat perang, dengan kata lain, telah mentransformasikan jiwa polos mereka dari kebahagiaan menjadi rasa was-was dan kekhwatiran akut. Kekerasan perang memberikan dampak mental tidak main-main sampai dapat mengubah cara mereka merasa, berpikir, serta cara bertindak.

Di Palestina pendidikan hampir tidak berdampak signifikan, terutama apabila dilihat melalui fungsi edukasinya, disebabkan sebagian besar anak-anak enggan pergi bersekolah. Boleh dikata, pena dan papan tulis kehilangan daya pikatnya sehingga membuat ilmu pengetahuan tidak lebih dihargai jika itu tidak ditujukan untuk mendorong mereka menjadi pejuang jalanan. Mereka lebih senang disodori senjata atau batu-batu katapel untuk menjadi senjata konfrontasi dengan musuh-musuh tentara Israel. Toh jika mesti bersekolah di tenda pengungsian, mereka ingin belajar tentang bagaimana cara merakit bom, menyusun strategi perang, atau mengetahui teknik-teknik sabotase dibandingkan mesti mempelajari matematika atau astronomi, ilmu-ilmu yang sama sekali tidak cukup dibutuhkan untuk kondisi mereka saat ini.

Singkatnya, peperangan sangat berdampak bagi pertumbuhan perkembangan kejiwaan anak-anak Palestina. Bahkan kematian itu sendiri sudah menjadi ontologi kesadaran yang membuat setiap anak-anak sudah sangat akrab dengan peristiwa hidup mati, sampai-sampai belakangan ini setiap anak di Palestina menandai nama-namanya di telapak tangan mereka. Sewaktu-waktu jika satu di antara mereka mati terkena bom atau reruntuhan bangunan, membuat pekerjaan menjadi lebih mudah bagi keluarga mereka. Dengan nama itu setiap tubuh mungil mereka akan lebih mudah teridentifikasi.

Masyarakat Palestina saat ini boleh jadi tidak demikian akrab dengan gagasan-gagasan perubahan yang kerap ditemui di negara-negara modern, yang cukup antusias dengan kemajuan dan progresivitas sejarah yang diandaikan mengalami loncatan-loncatan kemajuan. Bagaimana mungkin gagasan semacam itu dapat mendorong wacana pembangunan di tempat mereka jika setiap saat, seinci demi seinci tanah mereka dirampas sehingga banyak di antaranya terancam tidak dapat memiliki tempat tinggal. Perang berkepanjangan apalagi, membuat hari-hari di antara mereka lebih mengutamakan gagasan mempertahankan kehidupan mereka dibandingkan berpikir untuk mengembangkan bangsanya. Seolah-olah pergerakan sejarah berhenti di Palestina.

Bahkan kematian itu sendiri sudah menjadi tujuan hidup alih-alih mengorientasikan semua dari apa yang mereka miliki kepada kehidupan. Dalam hal ini persis seperti dikatakan Baruch Spinoza, filsuf jelang modernisme, bahwa kebijaksanaan masyarakat modern lebih menaruh perhatian besar kepada kehidupan daripada kematian. Paling-paling untuk saat ini kematian bagi zaman kiwari hanya lebih dapat dipahami sebagai angka-angka statistik yang ditemui di lembaga-lembaga internasional ketimbang sebagai sebuah peristiwa bermakna. Singkatnya, dengan kesadaran semacam itu, kematian jika bagi sebagian kita menghindarinya, tidak untuk Palestina. Tidak banyak pilihan yang dapat mereka ambil selain mempersiapkan kemungkinan akhir dengan kematian yang lebih bermakna dalam rangka membela pertiwinya.

Kekerasan senantiasa berwajah ganda: konflik dan perang. Keduanya sulit dibenarkan apalagi jika di balik itu menyimpan sejumlah asumsi yang melegitimasi tindakan itu. Kita semua mengerti motif di balik perampasan tanah dilakukan Israel kepada Palestina didasarkan bukan saja karena narasi sejarah, tapi juga karena didorong oleh nasionalisme sempit, yang sebenarnya cukup absurd. Bagaimana tidak, dari sekian banyak bangsa atau negara saat ini, hanya Israel yang dasar eksistensinya sudah didasarkan oleh motif okupasi, dan semua itu tidak menarik untuk diceritakan sebagai sebuah sejarah bangsa, karena tidak seperti Indonesia misalnya, Israel tidak akan memiliki narasi sejarah nasionalisme yang berdarah-darah ketika merebut kemerdekaan.

Konflik dan perang merupakan kondisi yang dapat menghancurkan berbagai tatanan, termasuk di dalamnya sistem berpikir. Dalam keadaan itu, atas nama ras, agama, atau nasionalisme dapat mengubah persepsi dan berpeluang menjadi legitimasi yang membenarkan perilaku kekerasan. Dengan kata lain kekejaman perang yang menyebabkan kengerian, penderitaan, dan ketakutan tidak akan bermakna lagi karena alasan atas nama sebuah nilai yang menjadi dasar ideologisnya. Makanya tidak heran, selama masa perang tiga minggu belakangan, di media sosial Tik Tok, tidak sedikit influencer asal Israel memeragakan olok-olok kepada penduduk Palestina melalui gimik korban perang dengan akun reels mereka. Tidak sama sekali bersimpati apalagi empati kepada korban kekerasan perang, tapi itulah watak dari bangsa agresif yang menghilangkan karakteristik kemanusiaan bagi anak-anak bangsanya.

Indonesia dan Palestina memiliki semacam kesamaan, keduanya dekat secara perasaan yang sama-sama pernah mengalami kekerasan perang dari masa lalu. Karena itu secara psikologis sebagai bangsa solidaritas atas Palestina sama artinya dengan perasaan senasib dan sepenanggungan. Palestina bahkan negara pertama yang mengakui nasionalisme Indonesia. Jika begitu siapa yang mau beralasan untuk menerima kolonialisme Israel untuk palestina saat ini?

  • Pagi masih buta, saya sudah dijemput oleh mobil angkutan langganan, yang akan membawa balik ke Makassar, setelah berakhir pekan di Bantaeng. Entah yang keberapa kalinya saya melakukan perjalanan ini, yang pasti, saya lebih banyak menggunakan angkutan umum, setelah saya kurang kuat lagi naik motor. Waima begitu, semuanya berjalan lancar, dengan mengeluarkan uang sewa sebesar empat…

  • Manusia hakikatnya tidak dirancang untuk mengerti perpisahan. Manusia hanya mahluk yang mengambil resiko berpisah karena suatu pertemuan. Begitulah alam bekerja, juga di kelas menuli PI. Kemarin pertemuan 13. Tak ada yang jauh berbeda dari biasanya. Kawankawan membawa tulisan, setelah itu sesi kritik. Hanya saja sudah tiga minggu belakangan kuantitas kawankawan pelanpelan menyusut. Barangkali banyak soal…

  • Setiap  keluarga,  mestinya punya  ritus. Ritual yang bakal menjadi tali pengikat untuk merawat keawetan kasih sayang, solidaritas, kekompakan dan tenggang rasa. Dan, setiap keluarga boleh memilih dan menentukan jenis ritus-ritusnya. Waima ritus itu biasanya terkait langsung dengan aktivitas keagamaan, namun dalam sebuah keluarga yang telah mementingkan suasana spiritual, maka apapun geliatnya, selalu berkonotasi spiritualitas. Demikian…

  • Scribo Ergu Sum—Aku Menulis, Aku ada (Robert Scholes) Kelas menulis sudah sampai pekan 12.  Sampai di sini kawankawan sudah harus memulai berpikir ulang. Mau menyoal kembali hal yang dirasa juga perlu; keseriusan. Keseriusan, kaitannya dengan kelas menulis, saya kira bukan perkara mudah. Tiap minggu meluangkan waktu bersama orangorang yang nyaris sama kadang tidak gampang. Di sana akan banyak kemungkinan, bakal banyak yang bisa terjadi sebagaimana lapisan es di kutub utara mencair akibat global warming. Di situ ikatan perkawanan bisa jadi rentan musabab suatu soal sepele misalkan perhatian yang minim, perlakuan yang berlebihan, atau katakata yang menjemukan, bisa mengubah raut wajah jadi masam. Makanya di situ butuh asah, asih, dan tentu asuh. Agar semua merasai suatu pola ikatan yang harmonik. Sehingga orangorang akhirnya bisa membangun kesetiaan, tentu bagi keberlangsungan kelas literasi PI. Begitu juga diakhir pekan harus menyetor karya tulis dengan kemungkinan mendapatkan kritikan, merupakan juga aktifitas yang melelahkan. Menulis, bukan hal mudah di saat dunia lebih mengandalkan halhal instan. Menulis butuh kedalaman dan waktu yang panjang. Menulis membutuhkan daya pikiran dan pengalaman yang mumpuni agar suatu karya layak baca. Karena itu kawankawan harus punya persediaan energi yang banyak. Biar bagaimana pun tujuan masih panjang, bahkan tak ada terminal pemberhentiaan. Walaupun tujuan selama ini hanya mau menghadirkan penulispenulis handal. Akibatnya hanya ada satu cara biar punya stamina besar; rajin bangun subuh. Saya kurang yakin apakah memang ada hubungan antara keseriusan dengan bangun di waktu subuh? Tapi, sampai pekan 12, keseriusan itu mesti terwujud di dalam karya kawankawan. Keseriusan yang mau membina diri. Keseriusan memamah berbagai bacaan, mau melibatkan diri di berbagai forum diskusi, dan banyak berlatih menulis. Kalau tiga hal ini disiplin dilakukan, saya harap dari komunitas sederhana kita bisa tumbuh orangorang yang tulisannya bakal ditunggu kedatangannya. Belakangan cara kita membangun komitmen sebagai penulis pemula ditandai dengan menerbitkan blog pribadi. Hal ini satu kemajuan menyenangkan sekaligus menyakitkan. Blog itu semacam buku harian. Akan membahagiakan jika di situ kawankawan rajin mengisinya dengan berbagai tulisan. Melihatnya dibaca banyak orang pasca diterbitkan. Juga melihatnya dapat membuat orang senang membacanya. Menulis begitu menyakitkan karena prosesnya sama dengan kelahiran seorang anak. Di situ ada ide yang dikandung, tersedimentasi sekaligus. Akibatnya, tiap tulisan dirasa punya masa kandungan. Kapan dia lahir tergantung lamanya waktu di dalam kandungan. Tulisan sebagaimana takdir sang anak, tak bisa dipaksakan…

  • Salah seorang putri saya,  yang masih duduk di sekolah menengah pertama, mengenakan seragam porseninya, T-Shirt yang bertuliskan Exiurose. Semula saya menduga itu adalah suatu slang yang belum ramah di pengetahuan saya. Maklum saja, anak-anak muda sekarang cukup kreatif melahirkan istilah-istilah baru. Rupanya, Exiurose adalah kependekan dari Experience of Our Purphose, yang dimaknakan kurang lebih, pengalaman…


Kala Literasi

Jl. Pa’ Bentengang No.6, RT.01/RW.08, Mangasa Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221