“Kenikmatan akibat cinta sekejap; derita akibat cinta berlangsung selamanya.” Begitu kata Jean Pierre Claris de Floriam, seorang sastrawan berkebangsaan Prancis. Mungkin itu pulalah yang dirasakan oleh Takaki Kono, dalam anime 5 Centimeter Per Second.
Film yang disutradarai oleh Makoto Shinkai ini, menjadi anime kedua yang saya tonton setelah Naruto. Dan sialnya, saya menyesal. Monontonnya pukul 22.00 malam, berhasil membikin saya beralih ke mode melankolis, karena kasihan dengan Takaki—dan diri saya sendiri. Hingga saya susah terlelap, dan mesti berkali-kali membolak-balikkan tubuh di atas kasur, macam ikan bakar di Warung Pangkep. Untuk urusan mengaduk emosi penonton, film ini sungguh keparat.
Di kacamata saya, film ini memang bagus—meski saya benci karena tidak happy ending. Selain karena durasinya yang pas, hanya 63 menit. Menontonnya, saya juga merasa disuguhkan potongan-potongan kisah dan kasih. Membaca larik-larik puisi. Ditambah musik yang melingkupi tiap adegan, makin menambah elegi tokoh-tokohnya. Film ini dibagi dalam tiga episode, yang dikisahkan dengan apik oleh Shinkai: cherry blossom, cosmonaut, dan 5 centimeter per second.
Di episode pertama, dikisahkan bagaimana perasaan Takaki Kano dan Akari Shinohara bersemi. Mereka bersama sejak SD di Tokyo, karena punya sifat dan sikap yang sama. Tubuh yang kecil dan sakit-sakitan, menjadikan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, tinimbang di lapangan. Inilah yang mendekatkan mereka satu sama lain. Menjadi teman baik.
Takaki dan Akari terus bersama, hingga kemudian takdir memisahkan mereka. Selepas SD, Akari harus pindah ke Tochigi karena pekerjaan orangtua. Meski begitu, mereka tetap berkirim surat; menanyakan kabar; berkisah tentang musim-musim yang dilalui; bercerita potongan rambut baru Akari; tentang pohon sakura yang indah; tentang apa saja.
Sayangnya, Takaki pun harus pindah ke Kaghosima. Menjadikan hamparan jarak di antara mereka semakin jauh. Sebelum pindah, mereka berjanji bertemu, Takaki akan mengunjungi Tochigi, demi menuntaskan rindu. Juga membawa surat cintanya untuk Akari.
Perjalanan kereta yang panjang, melelahkan, dan ditambah musim salju yang ganas, membikin jadwal kereta berantakan. Pertemuan yang dijadwalkan pukul 19.00 itu, sepertinya akan gagal. Dari stasiun ke stasiun, kereta sudah terlambat berjam-jam. Sialnya, surat Takaki pun jatuh dan hilang. Sesampai di stasiun tujuan, betapa terkejutnya Takaki melihat seorang perempuan, sendirian, menunggunya dengan sabar di sisi perapian. Itulah Akari.
Mereka menghabiskan malam bersama, makan, mengobrol, dan mencuri ciuman di bawah pohon sakura. Di sini Takaki membatin, “Aku merasa sangat sedih, karena aku tak tahu bagaimana harus bersikap atas jiwa dan kehangatan Akari. Aku jadi tersadar bahwa kami tak bisa terus bersama. Beban hidup terlalu berat, dan waktu yang tak menentu terbentang di depan kami.” Takaki menyadari, ada hal-hal di antara mereka yang tidak bisa dipaksakan.
Pagi sekali, di stasiun kereta, mereka pun berpisah. Tapi Takaki tak berkisah tentang suratnya yang hilang. Akari pun sepertinya ragu memberikan surat cinta, beramplop merah muda di dalam tasnya pada Takaki. Akhirnya, mereka tak menjelaskan apa-apa. Perasaan itu terpendam. Dalam sekali. Sungguh sayang, perasaan yang tak diungkapkan, berarti tak diperjuangkan. Mereka sebenarnya sedang tak baik-baik saja.
Di episode kedua, cerita berpusat pada sudut pandang Kanae Sumida. Perempuan sekelas Takaki yang menyukainya. Dia melihat Takaki sebagai laki-laki yang beda dari yang lain. Alasannya klise memang, hampir semua orang jatuh cinta bilang begitu: dia “berbeda”.
Setiap hari Kanae selalu berusaha untuk dekat dengan Takaki, seperti bersembunyi di tembok dekat parkiran sekolah, lalu muncul tiba-tiba setelah melihat Takaki, seolah pertemuan mereka kebetulan, hingga bisa pulang bersama. Waima demikian, Takaki tetap bersikap dingin, dia masih mencintai Akari, walau jarak membentang, meski kabar tak pernah lagi datang. Ya, mereka “lost contact”—tepatnya tak saling berkomunikasi. Meski kesempatan itu ada. Takaki mungkin lupa, yang memisahkan itu bukan jarak, tapi keengganan dekat dengan saling mengabari.
Pesan-pesan yang ditulis Takaki di HP-nya hanya menumpuk di draft. Tak bisa menemukan alamat tujuan. Tak pernah menjumpai penerima: Akari, sang pujaan hati. Kanae pun menyadari hal itu, dia merasa Takaki selalu melihat ke belakang, ke tempat yang jauh dan tak tersentuh, padahal dia sendiri selalu berada di depannya. Namun, Takaki tak pernah sama sekali memperhatikannya.
Takaki memang tetaplah Takaki, hanya dan masih mencintai perempuan di masa lalunya, yang rajin mengiriminya surat; menunggunya dengan tabah di stasiun kereta; yang memberikannya ciuman hangat di bawah pohon sakura. Meski kini mereka tak pernah lagi saling menyapa.
Kanae pun gagal mengutarakan perasaannya. Dia tak bisa. Merasa akan sia-sia saja, karena sikap Takaki yang memang tak memberinya harapan sama sekali. Kanae mencoba realistis.
Di episode terakhir, Takaki yang sudah dewasa dan bekerja, lebih banyak merenung. Menjadi burung malang yang kehilangan sayap. Dia tak bisa terbang ke mana-mana. Sayapnya patah oleh tajamnya pisau kenangan. Perempuan yang dicintainya itu tak pernah lagi terdengar kabarnya. Takaki tenggelam dalam air mata kesedihan. Mencoba bekerja keras di kantor, untuk melupakan Akari, yang tampaknya sia-sia belaka. Memang sesulit itu melupakan cinta pertama. Sangat sulit.
Takaki melukiskan deritanya dengan amat puitis, “Aku hanya menjalani hidup, tetapi kesedihan terus menumpuk. Di seprei yang kujemur, di sikat gigi di westafel, dan di ponselku.”
Saya melihat Takaki tak cukup berjuang. Hingga tak punya peluang. Dan akhirnya terbuang. Menguap bersama kenangan di masa lalu, dan angan-angan di masa depan. Takaki, cinta yang tak diperjuangkan, tak akan pernah dimenangkan. Andai sejak awal kau berani mengungkapkan perasaanmu pada Akari. Mungkin surat dan pesan Akari masih kau terima. Sayangnya tidak. Kau lemah, kalah oleh dirimu sendiri, kalah oleh jarak, kalah oleh waktu, kalah oleh pikiran dan keraguanmu, akhirnya kau merasakan kekalahan itu selamanya.
Takaki mungkin masih mengira, Akari akan menunggunya, seperti di stasiun kereta di musim salju yang ganas itu. Tapi tidak, Akari yang kesepian, tak kunjung menerima kepastian, akhirnya memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain. Begitulah, dalam hubungan, perempuan selalu butuh kepastian, sedang lelaki butuh keberanian.
Eric Form dalam The Art of Loving mendakukan hal yang sama, bahwa cinta sejati menuntut adanya keberanian untuk berkorban, serta menyongsong risiko untuk sesuatu yang dianggap berharga. Jika kau melihat cintamu sebagai sesuatu yang berharga, maka kau dituntut untuk rela berkorban dan menanggung risiko apa pun: waktu, tenaga, dan pikiran. Takaki tak melakukan itu, dan memilih untuk tenggelam dalam laut keraguannya: takut tak bisa membahagiakan Akari, karena jarak yang jauh dan beban yang berat. Seperti kata-katanya, di bawah pohon sakura saat berciuman itu.
Takaki berantakan, dia berhenti kerja—dan mungkin—menjadi bohemian. Entah. Filmnya berakhir di situ. Ditutup dengan soundtrack sentimental “One More Time One More Chance”dari Masayoshi Yamazaki:
Kapan pun, di mana pun, kucari sosokmu
Di persimpangan jalan
Di dalam mimpi
Meski kutahu kau tak di situ