Mencari Ibu Sejati

Dalam sebuah dongeng H.C. Andersen yang terkenal, tersebutlah seorang putra Raja yang sudah sekian lama belum juga mendapatkan pendamping hidup. Raja dan Ratu pun mulai risau. Sayembara-sayembara yang digelar dalam usaha mencari pendamping yang selaras dengan kriteria putra Raja tak juga membuahkan hasil. Putri sejati tak kunjung bersua.

Hingga pada suatu malam yang gelap disertai petir dan hujan deras, seseorang mengetuk pintu istana Raja. Pelayan pun membuka pintu dan mendapati seorang gadis sedang berdiri menggigil kedinginan di tengah hujan dan gelapnya malam. Lalu si pelayan mengajak si gadis masuk ke dalam istana menemui Raja dan Ratu.

Merasa iba dengan kondisi gadis tersebut, Ratu lalu menawarkannya untuk bermalam saja di istana. Ia lantas menyuruh para pelayan untuk menyiapkan kamar untuk sang gadis. Kasur empuk pun disusun lapis demi lapis sedemikian tingginya, sehingga untuk dapat berbaring di atasnya, seseorang harus menggunakan tangga yang cukup tinggi. Namun karena kelelahan, ia pun segera tertidur pulas.

Keesokan harinya, saat sedang sarapan bersama-sama di meja makan, Ratu bertanya pada sang gadis, “Bagaimana tidurmu semalam? Apakah cukup nyenyak?”

Oleh gadis tersebut dijawab, bahwa semalam ia tak dapat tidur pulas hingga menjelang pagi. Sebab serasa ada sesuatu serupa biji yang mengganjal di bawah kasur.

Mendengar jawaban tersebut, pahamlah Ratu bahwa inilah putri yang selama ini dicari-cari oleh putra Raja. Seorang putri yang dengan kemampuan istimewa mampu merasakan ganjalan sebuah biji yang kecil di bawah kasur, meskipun kasur tersebut telah disusun berlapis-lapis hingga ketinggian tertentu.

Benar tidaknya kisah dalam dongeng di atas, membawa kita pada sebuah pertanyaan yang mirip dengan kisah tersebut, adakah yang disebut ibu sejati? Dan bagaimana pula cara mengetahuinya? Tentu bukan dengan cara yang sama, memintanya untuk tidur di atas kasur empuk berlapis-lapis, lalu mengujinya dengan meletakkan sebuah biji di bawah lapis kasur terbawah.

Jika sekiranya harus menggunakan alat penguji seperti ini, tentu untuk merasakan sebuah ganjalan kecil di bawah sana diperlukan sebuah kondisi batin yang peka pula. Analogi biji kacang sesungguhnya untuk menunjukkan betapa halus dan perasanya seorang gadis yang berhati mulia. Sama halnya betapa seharusnya seorang ibu penuh kasih dan sayang terhadap semua makhluk di dunia ini, terlebih pada anak-anaknya, darah dagingnya sendiri. Sehingga jarak yang terbentang jauh sekalipun mampu menautkan hati-hati mereka.

Tak ada definisi yang tepat untuk menggambarkan arti ibu sejati. Hanya kata sejati yang bermakna ‘sebenarnya’, ‘tulen’, ‘murni’ dstnya yang dapat kita temukan dalam Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia. Dewasa ini sangat beragam definisi mengenai ibu sejati. Apakah ia seorang ibu yang bekerja di luar rumah, ibu yang beraktivitas di rumah saja, atau seorang ibu multi tasking yang memiliki kemampuan menjalani kedua peran di dua atau lebih wilayah yang berbeda.

Yang ingin saya tonjolkan di sini—terlepas dari apa pun peran lainnya—adalah bagaimana seorang ibu mampu menghidupkan unsur kelemahlembutan, cinta, welas asih, dan kebijaksanaannya dalam perilaku hidup sehari-hari. Walaupun ia melakukan banyak peran sebagai ibu di luar sana. Keluarga membutuhkan figur dan dukungan mereka, di tengah hiruk-pikuk dan kebisingan berita yang menggaduhkan serta perilaku tak manusiawi dari sosok-sosok yang diagungkan. Ibu sejati akan tampil menenangkan hati siapa saja yang berdiam dalam rumahnya, dan memeluk raga anak-anak yang rindu dekapan sayang ibu.

Sehingga sesulit apa pun kondisinya setiap orang akan mampu melaluinya, karena ada ibu yang mendampinginya. Bukan hanya fisiknya, tetapi yang paling utama adalah jiwanya. Tantangan terbesar di era ini, bagaimana anak-anak mampu menemukan jalannya agar kelak bisa bermuara pada akhir kehidupan yang baik. Mampu menggapai cita-cita walaupun tantangan menghadang di mana-mana, dapat menyelesaikan perjalanannya dan tidak tergoda oleh seribu satu tangan yang menari-nari menghalanginya.

Sejati bukan dalam makna lahiriah, namun lebih bermakna batiniah. Mari mencari ibu sejati di dalam diri masing-masing. Hadapi tantangan dunia global, dekap hangat jiwa anak-anak, lalu biarkan mereka mencari jalannya masing-masing. Kehangatan cinta dan kasih ibu akan menjaganya ke mana pun kaki membawanya pergi.

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Artikel yang Direkomendasikan

7 Komentar

  1. Luar biasa ….

    1. Terima kasih…. 🙂

  2. Ibu sejati selalu di hati
    Cintanya selembut salju
    Ibu sejati penuh kasih
    Cintanya sungguh tiada tara

    Selamat hari ibu ….

    1. Maasyaa Allah…
      Selamat Hari Ibu. Terima kasih kunjungannya.

  3. Ibu sejati selalu di hati
    Cintanya selembut salju
    Ibu sejati penuh kasih
    Cintanya sungguh tiada tara

    Selamat hari ibu ….

    1. Terima kasih. Semoga kita bisa mewujudkannya.

Tinggalkan Balasan ke Mauliah Mulkin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *