Malino, Bukan Hawa Dingin dan Hutan Pinus

Malino itu dingin, sejuk, pinus, air terjun, sayuran, buah-buahan, bunga, kebun teh. Begitulah image banyak orang. Bahkan mayoritas. Nyaris semua. Baik itu pelancong maupun orang Malino sendiri. Padahal, bukan itu saja, kota kecil di kaki Bawakaraeng ini, juga telah merekam pelbagai peristiwa bersejarah, bukan hanya di kancah lokal, namun juga di arena nasional.

Malino tidak sedingin dulu lagi. Begitu kata banyak orang. Seperti itulah pengalaman mereka yang sudah sekian kali bertandang ke sana. Atau dari mereka yang sedari kecil mukim di sana. Perubahan itu memang betul-betul terasa. Padahal, yang terutama dicari di Malino adalah rasa dingin itu sendiri.

Tapi, sungguh jelas terlihat, meski kadar kedinginan itu makin pudar, para pelancong bukannya mereda, bahkan kian membanjir saja. Banyak hal yang bisa dicicipi  secara berbeda  dan unik di dataran tinggi ini. Apalagi kalau yang berkunjung adalah manusia dari kota Makassar, kota yang kian padat lagi panas.  Jadilah Kota Bunga ini sebagai tempat pelepasan yang nikmat.

Sejatinya, sedari dulu Malino sudah menjadi tempat persinggahan dan peristirahatan. Dulu, namanya masih Lappara, yang berarti datar atau rata. Konon, raja-raja Gowa-Tallo biasa berlibur dan berburu di daerah ini. Itulah, hingga sekarang ada sebuah tempat, yang dikenal dengan nama Desa Lombasang.

Alkisah, itu berasal dari  nama seorang raja besar kerajaan Gowa, di pertengahan abad ke-16, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanudin. Di dekat Lombasang, tepatnya di Bulutana, hingga kini dapat dijumpai tiga rumah tua : Balla Lompoa, Balla Tinggia dan Balla Jambua. Biasanya, kalau wisatawan ingin ke Air Terjun Takapala atau Air Terjun Ketemu Jodoh, maka akan melalui Lombasang atau Bulutana, kalau dari arah pusat kota. Dan tidak kafah rasanya, kalau ke Malino, lantas tidak bermandi-mandi, atau paling tidak berswafoto ria di kedua air terjun tersebut.

Air Terjun Ketemu Jodoh, adalah tempat yang sakral dan keramat bagi para jomblo. Setidaknya dapat memberi motivasi dan energi  positif bagi mereka, agar dapat mengenapi firman Tuhan : hidup berpasang-pasangan.

Pengembangan besar-besaran Malino sebagai tempat persinggahan dilanjutkan oleh Gubernur Sulawesi di era kolonial, J. Caron, pada tahun 1932, setelah pembangunan jalan dari Makassar rampung pada tahun 1927. Itulah hingga sekarang, kita bisa menyaksikan tulisan “MALINO 1927”, di sebuah punggung bukit, tepat di atas sebuah tikungan sembilan puluh derajat, ketika hendak memasuki kota. Orang Malino menyebutnya tanda-tanda Malino, mungkin sebagai prasasti atas selesainya pembangunan jalan tersebut sekaligus berfungsi sebagai gerbang kota.

Begitu banyak orang yang memuji, betapa bagus ketahanan dan kekuatan jalan bikinan Belanda itu, termasuk jembatan dan gorong-gorong airnya. Bahkan ada pandangan, waktu saya masih kecil dulu, bahwa kualitas pembangunan orang Belanda terdahulu jauh lebih maju dan hebat.

Di satu sisi, ada benarnya juga, karena pembuatan jalan dan semacamnya langsung ditangani oleh kolonial Belanda,  yang lebih mengutamakan kemanfaatan pembangunan itu sendiri. Beda dengan pembangunan zaman Soeharto dulu, yang sarat dengan kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN), yang berimbas pada rendahnya kualitas proyek-proyek yang dikerjakan.

Di sisi lain, dengan berhening cipta sejenak saja.  Betapa besar juga penderitaan yang dialami. Terutama mereka yang dijadikan pekerja paksa, kalau pun diberi upah, pastilah jauh di bawah standar upah minimum. Di antara mereka, boleh jadi adalah kakek atau leluhur kita. Bisa dipastikan ada: ketakutan, kelaparan, kehampaan, kekurangan bahkan penyiksaaan yang menyertainya. Meskipun tidak ditemukan catatan pastinya. Tapi, sekedar perbandingan, Jalan Raya Anyer-Panarukan yang membentang dari ujung barat sampai ujung timur Pulau Jawa sekitar 1000 KM, yang dikenal sebagai Jalan Deandels, telah memakan korban 12.000 orang, adalah salah satu genosida dalam sejarah kolonialisme, yang dikerjakan hanya dalam setahun (1808-1809), sebagaimana ditulis secara apik oleh sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer.

Tak dapat dimungkiri, memang, kolonial Belanda punya andil besar mendesain dan membangun kota kecil Malino. Bukan hanya jalan berkelok-menanjak yang jadi saksinya, bangunan berarsitektur Eropa pun, banyak ditemui, dengan cerobong asapnya yang sangat khas dan unik, seakan kita berada di Nederland sana.

Salah satu bangunan yang patut disebut adalah gedung tempat dilaksanakannya Konferensi Malino tahun 1946. Di sinilah Guberner Jenderal Dr.H.J. van Mook, duduk memimpin pembentukan Negara Indonesia Timur. Lokasi gedung ini memang berada di suatu area khusus, Passangrahan Malino, yang di dalamnya banyak ditemui rumah-rumah peristirahatan bergaya barat, termasuk gereja tua dan klinik pengobatan.

Masih lekat dalam ingatan, ketika pulang bersekolah saat masih SD dulu, di pelataran gedung konferensi inilah, kami biasa bermain sepuasnya : ayunan, luncuran, ungkitan, atau besi putar.

Di penghujung Passangrahan Malino itu, sebelum Pasar Center, juga bisa ditemui sebuah kolam renang tua. Dulu, ketika masih di tingkat sekolah dasar, tempat ini menjadi destinasi makan-makan, sekaligus tempat penerimaan rapor kenaikan kelas. Uniknya, orang Malino tidak menyebutnya sebagai “Kolam Renang”, melainkan menamakannya “Swembak.” Besar kemungkinan, penamaan tersebut adalah sisa dari warisan kolonial juga. Lacak punya lacak, ketika sudah kuliah di Makassar, “Swembak” adalah padanan dari “Swimming-Bath” alias “Bak atau Tempat Pemandian.”

Banyak dari gedung bersejarah tersebut adalah aset Pemda Gowa. Tapi sayang sekali, sedari dulu, kalau tidak salah, hanya disewakan kepada pihak swasta saja, untuk dijadikan sebagai penginapan belaka. Sekiranya Pemda mau berpikir lebih holistik, aset-aset peninggalan kolonial semacam itu dapat dijadikan sebagai suatu wisata sejarah, jangan hanya sekadar jargon : “Gowa Bersejerah.” Imbasnya tentu sangat besar. Bukan hanya mengimbangi citra dan trend hura-hura yang kian mendera, sebagaimana banyak menjangkiti hampir semua daerah wisata. Tapi juga dapat menginventarisasi dan merawat aset-aset bersejarah yang ada, sekaligus bisa menjualnya sebagai komoditas wisata yang elegan dan edukatif. Penanaman nilai nasionalisme dan patriotisme juga dapat menemukan sarananya. Bahwa, Malino kini eksis, juga tak lepas dari lika-liku perjuangan dan tetesan darah para pendahulu.

Syukur-syukur para pahlawan setempat sudah diabadikan menjadi nama-nama jalan: Jalan Mappatangka, Jalan Endang, Jalan Samiun, Jalan S. Dg Jarung  dan sebagainya. Tapi ketika ditanya, bahkan kepada orang asli Malino sekalipun, siapa dan seperti apa perjuangan mereka dulu? Hampir dapat dipastikan, hanya segelintir yang tahu.

Mereka yang diabadikan itu adalah sebagian dari para pahlawan yang terlibat dalam pertempuran dengan tentara Belanda, baik langsung atau tidak langsung, dalam mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1946 pasca proklamasi, yang menewaskan hingga 100 orang pejuang.

Saat itu, mereka harus menghadapi  satu pleton KNIL dan satu pleton Angkatan Laut Kerajaan Belanda serta sepasukan polisi NICA ditambah dengan mata-mata dari bangsa sendiri, yang terkonsentrasi di sebuah gedung yang kini menjadi SMPN 01 Malino.  Sebagaimana dirinci dalam buku “Malino Berdarah” tulisan Zainuddin Tika dan M.Ridwan Syam.

Pertempuran itu pecah setelah Jepang menyerah pada Sekutu. Jepang sendiri juga menjadikan Malino sebagai basisnya. Peninggalannya pun masih dapat ditemui hingga sekarang, seperti gua-gua perlindungan, dan beberapa meriam.

Seingat saya, ketika di sekolah dasar hingga menengah, masih ada puluhan gua di sepanjang jalan bahkan ada yang dibeton sangat tebal, yang dulu, dimaksudkan untuk menghadang tentara sekutu bila sewaktu-waktu ingin menyerang Jepang di Malino. Lebih dari itu, Malino juga diandalkan Jepang sebagai lumbung persediaan makanan terutama sayuran dan buah-buahan.

Sayangnya, kini gua-gua tersebut sebagian besar sudah rata dengan tanah akibat pelebaran jalan. Yang tersisa, adalah beberapa gua yang agak jauh dari jalan raya saja. Bahkan ada cerita misterius, kalau Jepang dulu, secara khusus memilih Malino yang dingin, untuk menyimpan rampasan perangnya berupa emas yang tidak sedikit jumlahnya, menjelang Jepang menyerah pada Sekutu. Makanya di sisi selatan Malino, terdapat gunung yang, oleh penduduk setempat, disebut Bulaenta, yang berarti Emas-Kita. Yang diduga keras sebagai lokasi harta karun tersebut. Tentunya, ini dapat menjadi bumbu cerita petualangan tersendiri ala film Indiana Jones, sang pencari harta karun yang masyhur itu. Apalagi, memang, pernah ditemukan banyak koin kuno peninggalan kolonial.

Bahkan yang masih lekat dalam ingatan, bagaimana Malino terbukti menjadi saksi sejarah yang ikut mendinginkan konflik Poso dan Ambon, melalui Perundingan Malino I dan Malino II tahun 2002 silam. Jelasnya, ini akan menjadi kenangan nasional tak terlupakan, dalam merajut keutuhan Indonesia, yang betul-betul dirasakan bukan hanya oleh mereka yang terdampak konflik secara langsung, tapi juga seluruh bangsa Indonesia yang cinta damai.

Begitulah ketika bertandang ke Malino, bukan hanya menikmati alam dengan segala pernak-perniknya saja. Tapi kita berada di salah satu miniatur sejarah Indonesia dengan suguhan kekayaan pengalaman hingga beberapa abad silam. Kendati, oleh pemegang kuasa dan kebijakan, belum menyajikannya secara arif dan sungguh-sungguh. Namun tak mengapa, karena kita adalah para pencari kebajikan dan kebijaksanaan.

 

The following two tabs change content below.

Rajab Sabbarang

Pedagang merdeka yang hobinya membaca dan menulis

Latest posts by Rajab Sabbarang (see all)

Rajab Sabbarang

Pedagang merdeka yang hobinya membaca dan menulis

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *