Kurang lebih dua tahun saya telah menjadi kepala sekolah di homeschooling swasta. Tahun kedua ini saya menandainya dengan hadirnya virus corona, surat edaran, social distancing dan work from home. Sebenar-benarnya ini adalah pekerjaan yang tidak pernah saya pikirkan. Apalagi merasa mampu. Bayangan akan terjadinya kekacauan. Orang tua siswa datang mengamuk dan memang pernah terjadi dan syukurlah semuanya telah terselesaikan dengan baik, menjadi bagian dari perjalanan dua tahun ini.

Kedatangan virus bukan menjadi bayangan dari ketakutan saya. Mungkin saja, orang lain pun demikian. Datang dari Wuhan masih tidak membuat orang-orang peduli. Bahkan menjadi jokes bagi pemerintah kita. Hingga virus itu datang menuju ke tempat-tempat yang tak asing bagi kita, tetangga, keluarga di kampung atau tempat gado-gado favorit.

Senin 16 maret 2020, secara resmi dinas pendidikan mengeluarkan surat edaran. sekolah diliburkan. proses belajar secara tatap muka terganti dengan belajar di rumah. Sehari sebelumnya, beberapa sekolah telah mengeluarkan pengumuman itu. Agenda seperti makan bersama, home visit, sosialisasi, dan outing class, terpaksa kami tunda. Beberapa siswa kami menyambutnya tanpa semangat. Sepulang sekolah, salah satu orang tua siswa kami memastikan apakah benar sekolah diliburkan?

Sebelumnya kami sudah menginformasikan di grup Forum Komunikasi Orang Tua, mengenai surat edaran itu. Ternyata, menurut anaknya dia tetap sekolah. Walaupun ia sudah mengatakan ke anaknya jika sekolah diliburkan. Si anak tetap ngotot ingin sekolah. Saya menutup pembicaraan itu dengan berjanji akan video call dengannya. Saya menganggap ini adalah suatu keberhasilan, membuat sekolah menjadi tempat menyenangkan. Selain alasan di rumah tidak tahu ingin melakukan apa.

Jumat, 20 maret 2020 menjadi hari pertama kami bekerja dari rumah. Ini menjadi kemenangan kecil setelah seminggu sebelumnya saya sudah begitu rajin menginformasikan kepada owner kami mengenai social distancing. Tiba-tiba saja saya teringat dengan pepatah di buku cetak Bahasa Indonesia kelas 5 SD, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Bagi sebagian orang, social distancing tidaklah perlu dilakukan.

Syukurlah setelah dialog panjang menandingi dialog kebangsaan, saya bisa meyakinkan dan akan bertanggung jawab, jika kami benar-benar akan bekerja seperti biasa, walaupun dari rumah. Terbukti di hari Jumat, kami lebih produktif dengan aturan pertama tidak boleh ada yang bekerja di atas tempat tidur. Bahkan saya telah membayangkan jam istirahat bisa digunakan dengan tidur siang. Seperti di kantor-kantor start up. Rasa segar sehabis bobo siang akan meningkatkan produktivitas dalam melanjutkan kerja. Bahkan mengalahkan ajaibnya bergelas-gelas kopi. Ini bukan bualan saya melainkan berdasarkan penelitian. Namun, angan-angan itu masih menjadi cita-cita luhur saya. Entahlah jika Senin ini, cita-cita itu dapat tercapai.

Sore ini, akibat corona dan pemberlakuan social distancing membuat semua anggota keluarga berada di rumah. Makan siang bersama, salat berjamaah di rumah yang dulunya sangat jarang dilakukan telah menjadi kegiatan sehari-hari. Obrolan mengenai virus corona dan di tempat-tempat terinfeksi mendominasi rumah kami. Selain tentu saja, percakapan di whatsapp mengenai virus masih berintensitas tinggi. Hingga obrolan itu berganti ketika saya membicarakan salah satu orang tua siswa menelpon menanyakan keadaan anaknya. Ia berada di Ternate. Sedangkan anaknya bersama kakak dan bibinya berada di Makassar.

Maksud hati ingin melindungi anaknya, ia berencana untuk datang ke Makassar atau kedua orang anaknya pulang ke Ternate. Saya memberikan sudut pandang lain, kemungkinan diantara mereka ada yang terjangkit dan membawa ke orang-orang terdekat. Larangan pulang kampung juga cukup massif di berbagai media sosial. Beberapa kasus telah terbukti, pulang kampung akan membawa virus ke daerah tujuan. Ketakutakannya akan pemerintah melakukan lockdown saya terangkan dengan pembicaraan mengenai rupiah yang melemah. Dan opini dari berbagai para ahli ekonomi, pemberlakuan lockdown adalah langkah terakhir. Setelah tes dilakukan massal dan social distancing ternyata tidak berhasil. Obrolan itu ditutup dengan keputusannya untuk tidak memulangkan anaknya ataupun kedatangannya ke Makassar.

Kawan saya berkata dan cukup baik untuk kita jadikan slogan, “Jaga jarak juga bentuk kasih sayang. Kamu tidak harus selalu ada.” Namun, sepertinya slogan itu tidak mempan untuk homo sapiens seperti kita. Manusia bebal dan keras kepala. Mampu mengalahkan homo sebelumnya seperti Neandertal ataupun Erectus. Namun, tidak mampu mengalahkan egonya. Kemarin malam, seorang penceramah yang diundang untuk acara takziyah, tepat di sebelah lorong rumah membuktikan itu. ia berkata, “Jika kita tidak harus takut dengan virus corona, melainkan hanya takut kepada Allah saja. Kalaupun Allah mengkehendaki akan tetap mati juga.” Tak hanya ustas saja yang beranggapan demikian. Ada banyak orang-orang serupa lainnya. Kalaupun memang menginginkan kematian, mereka lupa jika dirinya dapat menjadi penyebab matinya orang lain.

Pagi ini, ketika saya bekerja dari rumah, seorang siswa berkata dalam video call yang saya dan rekan-rekan kerja lainnya lakukan sembari menulis di dalam jurnalnya, “Cara membasmi corona, dengan stay at home.” Entah kenapa kami tertawa mendengarnya. Bukan meremehkan, namun kami tidak menyangka jika anak kelas 5 ,SD sudah tahu apa yang harus ia lakukan dalam melindungi dirinya dan keluarganya.

Entah kenapa pula, anak kelas 5 SD lebih bisa menerima secara logis penyebaran virus itu. daripada seorang ustas ataupun pak RT di kelurahan saya yang masih saja meremehkan corona. Tanpa mempedulikan fakta yang terjadi. Mungkin jurang dalam penerimaan informasi antara Generasi Z dengan Alpa adalah alasan yang cukup masuk akal.

Saya pun teringat dengan perkataan seorang kawan di tengah perbincangan kami mengenai tingkat literasi. Ia berkata jika sebenarnya setiap orang memiliki mandat sosial. Penjelasan lebih jauhnya adalah setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap orang lain. Termasuk, tanggung jawab untuk melakukan social distancing dan berdiam diri di rumah, agar orang lain tetap dapat hidup.

Jauh sebelum virus ini muncul, kita sebagai manusia memiliki mandat sosial dalam mengupayakan literasi khususnya secara informatif terhadap orang-orang di sekitar kita. Teman saya pun merasa bersalah, mengiyakan perkataan pak RT dalam beberapa kali diskusi yang sebenarnya tidak ia sepakati dan memungkinkan ruang diskusi.

Namun, demi terciptanya kondisi lingkungan nan asri, ia lebih memilih untuk menganggukkan kepala. Dan ya, seperti kita lihat sekarang, kita sebagai manusia yang lebih memiliki keistimewaan dalam berpengetahuan menuntut orang-orang agar setara ataupun cukup sama seperti pengetahuan yang kita miliki.

Menutup tulisan ini, mungkin saja dapat menjadi renungan ataupun obrolan terlampau lepas, apa sebenarnya mandat sosial kita selain tentu saja untuk sementara waktu berdiam di rumah adalah mandat yang paling tepat.

Sumber gambar: Psikindonesia.Org.

ditulis oleh

Nurul Aqilah Muslihah

Senang bergerak ke sana ke mari.